Tampilkan postingan dengan label Dari Pikiran dan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Pikiran dan Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Selamat Ulang Tahun Pria Berperut Kecil

Hari ini hari kamu.
Hari ini 27 tahun lalu tangismu menjadi penanda kedatanganmu di dunia.
Hari ini semoga menjadi penanda kedewasaan, kebijaksanaan, kekuatan senantiasa menyertai langkahmu.

Doa tulus selalu ku sertai untuk keberhasilanmu meraih mimpi.
Kali ini hanya itu dan ucapan melalui tulisan yang dapat kuberi.
Hanya itu yang boleh aku lakukan.
Tak bisa lagi memberi ucapan puluhan kali melalui kata-kata yang terucap.

Tak apa, aku akan tetap tersenyum karena hari ini harimu.

Selamat Ulang Tahun Pria Berperut Kecil.

Rabu, 06 Februari 2013

Hari Lahir Pahlawanku

Cantik...
Satu kata yang sangat tepat untuk wanita ini.
Bukan fisiknya saja tetapi hatinya pun sangat cantik.

Wanita yang tangguh.
Wanita yang rela berkorban demi keempat anaknya.

Terkadang saya dibuat berpikir bagaimana wanita sepolos ini dapat menjadi tangguh?

Kepolosannya dan ketangguhannya selalu berjalan seirama.

Sejak Tuhan meniupkan nafas kehidupan dalam raga saya hingga suatu saat nanti mengambilnya kembali, wanita ini adalah wanita yang akan selalu menjadi nomor satu dalam pikiran, hati, dan hidup saya.

Wanita ini memang bukan pahlawan yang ikut dalam peperangan, tetapi dia pahlawan bagi saya.
Wanita ini adalah yang merawat saya bukan sejak saya dilahirkan, melainkan sebelum itu.
Wanita yang selalu saya cari pertama kali saat bangun dari tidur bila saya pulang.
Wanita itu adalah wanita yang selalu saya sebut dengan panggilan mama.

Selamat Ulang Tahun ke-59 Mama...
Semoga berkat, kesehatan, dan kebahagiaan akan selalu menyertai perjalanan hidupmu.

GBU

Yang menyanyangimu,

NK

Jumat, 16 November 2012

Happy 35th Anniversary Pah Mah

18 November 1977....

Satu hari yang sangat berarti....
Dua insan dengan karakter yang sangat berbeda menjadi satu....
Menyatu hingga maut akan memisahkan....

Hari demi hari....
Minggu demi minggu....
Bulan demi bulan....
Tahun demi tahun....

Bersama melangkah...
Mengantarkan ke-empat anaknya...
Melewati usia anak-anak, remaja, hingga dewasa...

Tak terasa 35 tahun telah berlalu...
Bukanlah waktu yang singkat...
Lebih dari setengah usia dijalani bersama-sama...

Rasa sedih, rasa senang, rasa kesal, rasa bahagia...
Bercampur seperti sebuah adonan kue....

Papa dan Mama,
Kami bahagia melihat kalian hingga di usia penikahan yang ke-35 tahun.
Kami berharap dan selalu berdoa setelah ini yang ada hanya kebahagiaan di keluarga kita.

Apa pun yang Papa dan Mama hadapi...
Bagaimana pun Papa dan Mama menyikapinya...
Rasa sayang dan cinta akan selalu ada diantara kalian...
Seperti rasa sayang dan cinta kami kepada kalian yang tidak akan pernah berhenti...

Sekali lagi...
Selamat Ulang Tahun Pernikahan Ke-35 Pah, Mah..

18 November 2012
Kami Yang Menyayangi Kalian,
Hendro, Indrie, Nunus, Noeke

Kamis, 11 Oktober 2012

Kesempatan Hak ?

APAPUN :

Rupa kita...
  Cantik atau ganteng.

Warna kulit kita...
  Hitam atau putih.

Bentuk tubuh kita...
  Kurus atau gemuk.

Status sosial kita...
  Kaya atau miskin.

Jabatan kita...
  Owner atau karyawan.

Gaji kita...
  Besar atau kecil

Itu semua tidak pernah menjadi suatu masalah ataupun patokan untuk mendapatkan sesuatu yang memang menjadi hak semua makhluk hidup, bahkan manusia di dunia ini.

KARENA :

Manusia berhak mendapatkan kesempatan tidak hanya satu kali untuk merasakan bahagia.




Minggu, 01 Juli 2012

Hi Dear....

Hi dear....

Apa yang kamu lihat dan dengar pagi ini, saat matamu terbuka?

Apakah sama seperti yang aku lihat dan dengar saat mataku terbuka di pagi ini?

Aku melihat semburat merah kekuningan di langit.
Diiringi kicauan burung yang tanpa sungkan menggelitik gendang telingaku.

Indah dan tenang.

Membuatku siap untuk menyambut hari ini dengan tersenyum.

Semoga kamu juga sama y.
Karena dengan senyum yang tersungging di bibirmu saat melangkah.
Saat itu pula senyumku akan semakin lebar.

Have a nice day.
XOXO

Jumat, 29 Juni 2012

Selamat 8 Windu Papa

Tepat di hari ini....
Empat tahun lalu....

Di hari itulah menjadi akhir dari perjalanan karir pria ini.
Karir secara umum, tetapi bukan karir secara pemikiran dan hidupnya.

Sampai empat tahun lalu pula saya tidak pernah melihatnya bertambah tua.
Sedikit pun.

Saya selalu melihatnya menjadi sosok seorang pria tangguh.
Membuka kelopak matanya paling dini.
Dan menutupnya paling larut.

30 tahun lebih dirinya menjalani itu.
Tak ada keluhan sama sekali keluar dari bibirnya.

Dialah panutan saya.

Walau dahulu saya dan dirinya sering berbeda pendapat.
Berdebat...
Hingga pernah terucap darinya saya anak yang kurang ajar.

Tapi saya yakin, hal tersebutlah yang membuat saya lebih dekat dengannya.
Membuat saya menjadi lebih mengerti tentang pemikiran-pemikirannya.

Ya...
Dia adalah pria yang pertama kali saya sayangi dan cintai.
Dia adalah seseorang yang sejak saya dapat mengucapkan kata hingga saat ini dan akan selamanya, saya panggil Papa.

Selamat Ulang Tahun ke - 64 pah.
Semoga selalu dalam lindungan - Nya, selalu diberikan kesehatan, dan dikabulkan semua keinginan papah yang belum terkabul.

GBU.

With Love'

NK


Senin, 11 Juni 2012

Semuanya Ada di Jakarta

Waktu sudah menunjukkan Pk 21.12 saat melihat jam silver yang melingkar di tangan kiriku.
"Mbak, pulang yuk", ajakku kepada Mbak Herni.

Kami pun pulang melewati jembatan penyeberangan yang melintasi kebawah salah satu jalan layang di Ibukota.

Memang benar bila dikatakan "semuanya ada di Jakarta".
Mulai dari  barang murah hingga mahal, bangunan kumuh hingga besi beton yang menjulang, manusia tanpa pendidikan hingga manusia berpendidikan tinggi, dan masih banyak lagi.

Salah satunya adalah yang aku lihat saat melewati jembatan penyeberangan itu.

Anak kecil berusia sekitar 2 tahun, gadis kecil berusia sekitar 6 tahun yang keduanya tertidur lelap.
Ada pula seorang perempuan yang menurutku usianya tidak lebih dari 25 tahun, dan seorang laki-laki setengah baya, mereka tampak asik mengobrol.

Mungkin pemandangan itu adalah hal yang biasa jika berada di tempat yang biasa pula.
Tetapi aktifitas yang tampak seperti kebanyakan keluarga kecil tersebut terjadi di bawah jalan layang, tepat disebelah shelter Trans Jakarta.

Sebuah pemandangan yang mengenaskan.
Kedua anak kecil itu tertidur hanya beralaskan selembar kardus.

Saat aku berpisah dengan Mbak Herni yang menggunakan jasa Trans Jakarta untuk pulang dan aku menggunakan metromini,pikiranku kembali melayang ke keluarga kecil tadi.
Mengingat sembari melihat jalanan yang masih padat dipenuhi dengan angkutan umum dan sebagian besar adalah kendaraan pribadi dan tentu rata-rata adalah kendaraan beroda empat dengan seri-seri diatas tahun 2005.

Melihat besi-besi beton yang telah menjadi gedung pencakar langit.
Dan menurutku si memang indah.
Para arsitek itu hebat, bisa mendesain bangunan dengan berbagai bentuk.
Dan salut juga untuk para kuli bangunan, yang terkadang mengesalkan karena mulutnya tak tahu sopan santun.

Sangat kontras memang.
Terlalu jauh jarak antara Si Kaya dan Si Miskin.
Masyarakat menengah seperti aku ini paling jumlahnya tidak sampai sebanyak si Kaya di Si miskin tersebut.

Entah siapa yang salah.
Sistem di negeri ini?
Atau perseorangannya?

Si Kaya karena dia giat dalam bekerja?
Si Miskin karena dia lebih banyak bermalas-malasan, hanya mengandalkan belas kasihan orang lain?

Entahlah....
Hanya Tuhan yang tahu.

Minggu, 10 Juni 2012

Lilin Saya, Lilin Kamu, dan Lilin Kalian

Lahir....
Kehidupan....

Gelap....
Terang....

Kebahagiaan....
Kesedihan....

Kematian....

Ambillah dan lihatlah lilinmu.
Perhatikan bagaimana ia habis.
Dan kamu akan melihat seperti apa perjalananmu.

Putih hingga sumbunya.

Diberikan lah api muncul cahaya, dan terlihat noda hitam pembakaran menandakan telah dihembuskannya nyawa untuk melihat, mendengar, merasakan setiap hal dalam hidup.

Perlahan tapi pasti lilin mulai meleleh.

Ada kalanya terlihat meredup tapi tetap bertahan menyala dengan perlindunganmu.
Ada kalanya tertiup angin kecil dan mati.
Ada kalanya pula tertiup angin besar barulah dapat mati.

Tapi kematian ini hanya bersifat sementara, karena akan ada kembali cahaya yang menyala dalam sumbu dengan ujung menghitam.

Entah butuh berapa kali lilin ini diberikan cahaya baru.
Seperti manusia yang tidak akan pernah tahu, berapa kali dirinya akan terjatuh.

Terakhir satu batang lilin tadi semakin memendek.
Tanpa angin maupun goncangan, cahayanya semakin meredup, dan akhirnya benar-benar mati.

Sang Maut pun telah menjemputnya.
Yang tersisa hanya kenangan bersamanya.


Jumat, 08 Juni 2012

Gadis Kecil Di Pojok Ruangan

Suasana ruangan di suatu Panti Asuhan itu langsung riweh saat diriku memasuki ruangan itu.
Yah aku saat ini berdiri dikelilingi anak-anak yang menyambut aku dengan wajah berbinar-binar. Bukan kepadaku saja mereka berlaku demikian, tetapi kepada semua yang mengunjungi mereka. Wajar mereka bersikap seperti itu, karena bagi mereka kunjungan seseorang yang singkat sangat berharga bagi mereka.

Mereka, anak-anak yang polos, yang belum mengerti apa artinya dosa ini, mereka harus tinggal di Panti Asuhan ini. Mereka tidak tahu mangapa mereka harus tinggal disini, jauh dari orangtua yang bahkan mereka tidak tahu siapa orangtua mereka. Ketidaktahuan mereka sama seperti mereka tidak tahu mengapa mereka dilahirkan dengan kekuakarangan.
Panti Asuhan Kasih yang aku kunjungi memang panti asuhan bagi anak-anak cacat. Ini pertama kalinya a berkunjung, dan hatiku langsung terasa seperti dicabik saat melihat keadaan mereka. Aku bermain bersama mereka, berbagi cerita yang sebenarnya lebih tepat a menjadi pendengar dan mereka menjadi pendongeng.

Hal yang semakin membuatku takjub adalah saat seorang anak lelaki berusia 11 tahun yang hanya memiliki satu tangan normal memetik gitar dan mulai memainkan suatu lagu yang setiap detiknya terasa semakin indah didengar saat seorang gadis kecil buta berusia tujuh tahun mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Saat itu pula aku berpikir, sesungguhnya Tuhan itu sangat adil. Aku yang normal dari beberapa tahun lalu aku mencoba untuk belajar gitar sampai sekarang tidak pernah bisa, begitupun dengan menyanyi. Tetapi saat ini didepanku, aku melihat dua anak yang umurnya tidak sampai setengah dari umurku dan mereka telah dikaruniai bakat yang luar biasa walaupun dengan fisik yang tidak sempurna.

Setelah satu lagu selesai mereka mainkan, kami yang disekitarnya langsung tepuk tangan, kemudian berganti dengan lagu selanjutnya yang lebih riang. Untunglah, karena sedetik lagi aku mendengar mereka menyanyi dengan lagu yang sebelumnya yang memang lebih mellow, pasti aku sudah tidak sanggup menahan air mataku yang sudah mau menetes.

Aku ikut dalam keriangan samapai beberapa menit setelahnya. Kemudian aku ijin untuk kekamar kecil. Setelah dari kamar kecil, aku berniat untuk kembali lagi ke ruangan berkumpul tadi. Kamar kecil menuju ruangan berkumpul dipisahkan oleh kamar-kamar tempat mereka melepas lelah. Tidak seperti sebelumnya saat aku ke kamar kecil, sekarang dalam perjalanan kembali ke ruangan berkumpul aku memperhatikan kamar tidur yang luas karena memang untuk beberapa anak.

Kamar anak lelaki aku lewati tanpa ada yang menarik.

Saat aku melewati kamar anak perempuan, mataku tertuju pada tempat tidur di pojok ruangan kamar tersebut. Tempat tidur itu sekitarnya dilengkapi besi penyangga. Aku tidak tahu untuk apa besi-besi itu. Karena penasaran aku mulai mendekati tempat tidur itu. Setelah berada didepan tempat tidur, aku mengeri apa fungsi dari besi-besi itu. Di tempat tidur itu tergeletak gadis kecil dengan wajah yang mmm maaf aku tidak tahu bagaimana menyebutnya, mungkin dengan kata miring. Bibir yang selalu terbuka memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang tumbuh tidak beraturan. Tangan dan kakinya yang tidak lurus.

Gadis kecil itu menatapku berusaha mengangkat tangannya. Aku rasa, aku mengerti apa yang dia inginkan. Aku ulurkan tanganku untuk menyambut tangannya. Saat tangan kami menyatu, gadis kecil itu tertawa bahagia, akupun tertawa tapi dengan air mata yang tanpa aku sadari akhirnya jatuh. aku duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur. Aku terus memegang tangan gadis kecil itu dan mulai mengusap rambutnya yang berantakan. Semakin jelas dari wajahnya bahwa dia tampak bahagia.

Belaian sayang lah yang mereka butuhkan. Hal tersebut aku sadari saat melihat reaksi wajah bahagia gadis kecil itu. Dia bersama teman-teman yang berada di ruangan berkumpul tidak pernah mengharapkan hal-hal yang besar, hal-hal yang lebih seperti yang aku inginkan saat aku berada diusia mereka. Yang mereka butuhkan hanya kasih sayang. Hal yang sangat sederhana bila dibandingkan dengan materi, tetapi sangatlah sulit didapatkan terutama anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan ini.

Pikiranku yang melayang-layang memikirkan semua itu, sambil terus membelai dan memegang gadis kecil langsung buyar, saat Suster pengurus panti menyentuh pundakku. Suster tersenyum, dan tanpa aku meminta ia menjelaskan siapa gadis kecil ini. Suster menjelaskan bahwa gadis kecil ini bernama Wulan, berumur enam tahun. Wulan menderita kelainan tulang belakang, yang menyebabkan ia menghabiskan waktu di tempat tidur, karena jika ia terlalu banyak duduk di kursi roda, ia cepat lelah. Karena itulah dalam sehari dia duduk di kursi roda kesayangannya hanya pada saat mandi matahari di pagi hari dan sore hari saat anak-anak berkumpul di ruangan berkumpul untuk menonton film kartun yang telah berulang-ulang kali diputar dengan menggunakan player.

Suster pun mengatakan ini saatnya untuk menonton film kartun. Saat aku membantu suster mengangkat Wulan dan didudukkan di kursi roda, aku sempat melihat wajahnya semakin gembira, ahh tampaknya dia sudah mengerti kebiasaan tiap hari dan dia menyambutnya dengan gembira.
Aku mendorong kursi roda Wulan sambil melihat jam ditanganku yang menunjukkan waktuku sudah selesai di Panti Asuhan ini, karena aku memiliki janji untuk bertemu teman-temanku. Tapi aku belum ingin pergi dari sini. Akhirnya aku mengirimkan sms untuk membatalkan acara bersama teman-temanku dan aku pun meminta maaf.

Diluar dugaanku ternyata teman-temanku tidak keberatan, bahkan mereka mengatakan akan menyusulku di Panti Asuhan ini. Aku segera memberi tahu suster pengurus dan dia pun mengatakan tidak masalah, toh dia belum mulai memasak untuk makan malam sehingga dia bisa memasak sesuai dengan jumlah yang bertambah itu. Aku semakin senang, dan akupun mengatakan kepada suster untuk tidak memasak, karena teman-temanku akan datang dengan membawakan makan malam untuk semuanya.

Suster langsung memelukku dan akupun membalas pelukannya. Setelah suster melepaskan pelukannya dan berlalu untuk menyiapkan peralatan makan, aku melihat Wulan yang ternyata menatapku dengan bingung. Mungkin dia berpikir kenapa aku berpelukan dengan pengasuhnya. Aku menghapus air liur yang terus menetes dari mulutnya setelah itu dengan lembut aku memeluknya sesaat. a melihat reaksinya sangat bahagia. Hanya dalam beberapa jam aku dan Wulan menjadi sepasang sahabat. Dan aku sangat menikmatinya... :-)

Film kartun telah selesai, berganti dengan kegiatan mandi sore, aku mendorong kursi roda Wulan kembali ke kamarnya, kemudian aku membantu suster memandikan dirinya. Saat semua anak-anak telah selesai mandi, saat itu pula teman-temanku datang dengan membawa makan malam, dan tanpa aku sangka mereka juga membawa bermacam-macam mainan.

Acara makan malam pun berlangsung. Wulan diberi kesempatan khusus untuk malam ini, makan bersama dengan teman-temannya. Tidak dikamar dan sambil tiduran. Aku menyuapi Wulan perlahan-lahan dan menghapus air liurnya yang tidak berhenti. Wulan pun senang, hal tersebut aku ketahui tidak hanya saat melihat wajahnya tetapi juga saat suster mengatakan malam ini Wulan makannya banyak.

Setelah makan malam, aku dan teman-temanku kembali bermain. Kami bermain hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kami mengantarkan anak-anak kecil ini ke kamarnya mengucapkan selamat tidur. Terakhir aku ke tempat tidur Wulan. dia tampak kelelahan tetapi juga bahagia. Aku memegang tangannya, mengelus rambutnya.. Kami berdua saling bertatap mata. Aku tersenyum, Wulan membalasnya. Aku mengucapkan selamat tidur. Dia terus menatapku. Aku mengecup keningnya. Dan dia pun telah menutup matanya untuk beristirahat setelah melewati hari yang menyenangkan. Selama lima menit aku tidak beranjak, memastikan Wulan sudah benar-benar tertidur.

Setelah aku yakin Wulan sudah berada di alam mimpinya, aku keluar. Dari pintu kamar aku menoleh lagi ke arah malaikat-malaikat kecil yang tertidur itu. Dalam hati aku berkata " Terima Kasih untuk pelajarannya hari ini. Dari kalian, terutama Wulan aku belajar bahwa hidup ini indah. Tidak harus oleh hal-hal besar, tetapi hal kecil pun berharga."

24.08.10

Selasa, 07 September 2010

21.21

Kulangkahkan kaki untuk menyeberang jalan.
Kok sepi?
Aku melihat kearah jam tanganku yang baru menunjukkan pk 21.21.
Tumben pikirku.
mungkin sudah banyak yang mudik.

Aku menunggu bis di depan toko yang sudah tutup.
Disitu ada bocah lelaki yang kalau dilihat dari potongan tubuhnya yang mungil sekitar umur 6-8 tahun.
Bocah tersebut sedang meletakkan kardus di depan emperan toko.
Mungkin dia mau tidur.

Tiba-tiba bacah tersebut membuka mulutnya.
Dari mulutnya aku mendengar suara.
"Mbak, mbak nunggu siapa?"
Awalnya aku tidak tahu ia bertanya pada siapa. tapi setelah kulihat sekelilingku tidak ada orang lain selain aku dan dia, aku yakin bahwa bocah itu bertanya kepadaku.

Setelah kujawab kalau aku menunggu bis yang biasa aku naiki, bocah menyahut lagi bisnya sudah ga ada mbak. "Memang mbak mau ke mana?"
Aku dengan singkat menyebut daerah tempat aku tinggal dan bocah berkata "Naik taksi saja mb."
Sambil tersenyum aku mengatakan bahwa aku akan coba menunggu bisa yang biasa aku naikin.

Saat menunggu itu sesekali aku melirik tingkah polah bocah. Dia masih asik dengan kardusnya.
Terbesit dalam benakku, apa maksudnya dia menanyakan dan menyarankan aku naik taksi saja.
Aku pikir tidak ada untungnya bagibocah itu.

Lima menit aku menunggu, bis yang aku incar terlihat.
Aku mulai melangkahkan kakiku.
Bocah itu langsung berdiri melihat aku.
Sambil tersenyum aku berkata bahwa bisnya masih ada.
Bocah lelaki itu sambil menyengir langsung berkata "O iya mbak, aku lupa"

Saat aku naik ke bis, bocah lelaki mengikuti.
A duduk, dan mulailah dia bernyanyi.
Tak jelas lagu apa yang dinyanyikan.
Yang jelas aku tangkapo malah saat dia menguap.
Ngantuk sekali pasti bocah ini pikirku.

Biasanya aku ga terlalu peduli dengan pengamen, kalaupun sedikit peduli tidak pernah aku mengeluarkan uang lebih dari seribu rupiah. Sering hanya logaman 500 rupiah.
Tapi melihat bocah ini, aku merasa berbeda.

Saat aku melihat dia bergerak meminta sedekah dari depan, aku melihat belum ada yang memberi.
Aku langsung memberinya 2000 rupiah.
Hal yang berbeda dari yang biasa aku lakukan.

Dan bocah itupun sambil memperlihatkan wajah yang memang sangat terlihat mengantuk mengucapkan terima kasih.
Semoga saja bocah lelaki itu hari esoknya akan lebih baik.

Senin, 06 September 2010

Kehidupan Diandaikan Sebatang Lilin

Kalau ada yang bilang apa kehidupan itu, pasti akan banyak jawaban yang beragam.
Atau ada yang bingung menjawabnya.
Kata dari kehidupan memang cukup sederhana tapi memiliki banyak arti yang berbeda pada setiap orang.

Selama beberapa lama aku menjadi orang yang bingung, stress, dsb yang saat ini pun masih bingung aku ungkapkan apa kata yang cocok untuk dituliskan.
Jika aku diberi pertanyaan apa  kehidupan itu pada saat itu, pasti aku menjadi kelompok orang yang bingung menjawab pertanyaan itu.

Tapi saat kemarin aku melihat jejeran lilin dengan seorang di depan di setiap lilinnya, terbesit dalam pikiranku bahwa kehidupan itu seperti sebuah lilin.

Kenapa?

Lilin sebelum dibakar berwarna putih termasuk sumbunya. (lain halnya dengan lilin hias yang berwarna-warni, itu tidak termasuk disini)
Seperti pula manusia saat baru lahir, putih tanpa ada noda.

Lilin mulai dibakar dengan api.
Mulai ada warna merah dan kuning pada api.
Seperti manusia yang menandakan dimulainya kehidupan.
Kehidupan yang indah.

Tiba-tiba ada sedikit angin.
Api sedikit tergoncang, tetapi tidak mati.
Manusia memiliki masalah dalam hidupnya.
Kehidupannya mulai ada goncangan kecil.
Manusia masih bertahan.

Angin mulai kencang.
Api pun tak kuat menahannya.
Akhirnya lilin mati.
Manusia memiliki masalah yang besar dan membuatnya terpuruk.
Kehidupan seakan-akan jahat baginya.

Lama sebentarnya lilin itu mati tergantung dari manusia.
Apakah dirinya telah sanggup menyelesaikan segala cobaan hidupnya?
Apakah dirinya telah sanggup berdiri kembali?
Apakah dirinya telah sanggup melangkah lagi?
Atau dirinya memilih hidup segan mati pun tak mau.

                                                        ............ hening ............

Lilin mulai menyala kembali.
Manusia mulai memikirkan kehidupannya kembali.
Berusaha melupakan yang telah lalu.
Mencoba menatap kedepan kembali dan melangkah.

Lilin akan tetap menyala dengan guncangan-guncangan kembali. bahkan sepat mati kembali dan nyala kembali, atau menyala dengan tenang.
Manusia melanjutkan perjalanan kehidupannya.
Ada yang disertai goncangan kecil lagi, ada goncangan besar lagi, atau tetap berjalan di jalan yang halus.

Lilin mati.
Bukan karena goncangan dan angin.
Mati karena habis.
Manusia tidak selamanya bertemu dengan kehidupan.
Manusia pada akhirnya akan bertemu dengan malaikatnya.
Malaikat yang menemaninya saat harus mengembalikan nyawa kepada Tuhan-nya.

Kehidupanku Bagaikan Lilin       

Jumat, 27 Agustus 2010

Alam Memberikan Ketenangan yang Luar Biasa

Kulangkahkan kakiku ke daratan pasir yang belum pernah kupijak sebelumnya itu. Kuhirup udara yang sejuk, segar, sangat berbeda dengan udara Jakarta yang entah sudah terkontaminasi zat-zat apa saja. Setelah meyakinkan hidungku mulai terbiasa dengan udara yang sehat ini, aku mulai menyebarkan pandanganku ke sekitar, dan apa yang ku dapat?

Wow, mataku sangat menyukai pemandangan ini, begitulah pikiranku berkata. Disekitarku terhampar pemandangan yang sangat menakjubkan. Pegunungan pasir dengan warna kehijauan dibelakangnya. Sungguh pemandangan yang ............. Tak tahu bagaimana aku mengucapkannya. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.

Aku mulai melangkahkan kakiku, berharap dapat menuju puncaknya. Kakiku melangkah dengan ringan, santai. Sepertinya ia bekerja sama dengan mataku yang tak bosan-bosan menikmati pemandangan disekitar. Kalau menikmati kenapa tidak diabadikan, tiba-tiba pikiranku berkata. O iya aku hampir lupa. Sayang sekali kalau aku sudah jauh-jauh kesini tanpa mengabadikannya. Kan biosa aku simpan dan aku lihat lagi kalau bosan dengan suasana Jakarta yang membuat orang stressssss.......

Satu jam kemudian, kelelahan mulai menderaku, dan langkahku pun semakin perlahan. Tapi tak masalah, aku rasa aku memiliki cukup waktu untuk menikmati surga didepan mataku sesuka hati. Aku sejenak melepas lelahku dengan duduk dan meminum air yang kubawa. mengelap keringatku yang menetes.

Setelah puas aku melanjutkan kembali perjalananku yang masih cukup panjang. Aku bertemu dengan penduduk setempat yang melangkah turun.aku menyapa mereka, dan merekapun tersenyum. Tanpa segan aku meminta ijin untuk mengambil gambar mereka dengan latar belakang pemandangan tempat mereka diami.

Aku mengobrol sejenak, bertanya tentang daerah itu menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia. Nah itu pentingnya bahasa nasional, dapat menghubungkan satu orang di daerah yang satu dengan yang lain. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali melanjutkan perjalanan.

Berjam-jam telah aku lewati dengan berjalan. dan akhirnya aku menyentuh puncak dari gunung tersebut. Tidak sia-sia aku7 menguras energi hingga sampai ke puncak. Jika dibawah tadi a bilang pemandangan yang menakjubkan dan selanjutnya tidak bisa berkata-kata. Sekarang aku benar-benar tidak bisa berkata-kata.....
Jadi bisa kalian pikirkan semenakjubkannya pemandangan yang aku lihat ini.

Aku duduk dan memandang hamparan alam disekitar. Ketenangan pun menghinggapi diriku. Tiba-tiba aku melupakan rasa lelah yang kudapat saat aku menuju kesini, dan sejenak aku dapat melupakan semua beban yang sedang melanda hidupku.

Sekarang aku mengerti, tidak perlu harta yang banyak untuk hidup bahagia. Tidak perlu menjadi seseorang yang modis untuk mendapatkan ketenangan hidup. Saat aku berbincang dengan penduduk asli sini, aku dapat menangkap kebahagiaan dan ketenangan dalam dirinya. Padahal ia hanya seseorang yang berasal dari desa terpencil, yang mungkin nama desanya pun tidak tercantum di peta. Hidupnya, mimpinya sangatlah sederhana, bersatu dengan alam yang menakjubkan, ia dapat dengan mudah bersyukur atas hidupnya di setiap hari.

Thank you God for everything....

Selasa, 24 Agustus 2010

Liukan DIatas Panggung Itu


Cahaya remang-remang di panggung itu tidak membuat mata penontong berpaling.
Penontong bertanya-tanya apa yang dipersembahkan oleh sang seniman.

Tak berapa lama dari ujung panggung mulai terdengar musik dimainkan yang dilanjutkan dengan adanya gerakan yang nyaris tak nampak.
Gerakan perlahan yang jika dilihat dengan seksama penonton akan mulai terbiasa dengan cahaya remang-remang.
Sang seniman tiada hentinya melakukan gerakan dengan tubuhnya.
Tubuhnya bagai karet yang dengan mudahnya diliukkan.
Liukan-liukan tersebut mengartikan sesuatu dalam cerita bisu yang dipersembahkan lewat tarian.
Bukan liukan erotis.
Liukan itu memiliki pesan yang dalam.

Liukan itu begitu indahnya, hingga penonton pun terdiam.
Mata penonton nyaris tidak berkedip dari awal hingga akhir pertunjukkan.
Pada akhir pertunjukkan sang seniman perlahan-lahan menghilang ke ujung panggung dan tirai tertutup.

Saat itulah penonton sadar bahwa pertunjukkan yang membius mereka telah berakhir.
Serontak penonton berdiri dan tanpa basa-basi bertepuk tangan tanda puasnya atas pertunjukkan.

Itulah keindahan yang terangkum dalam seni....